Orang-orang desa suka mencari rumput gajah untuk makan
ternak di padang rumput sebelah sana, di pinggir perkampungan. Padang rumput
yang luas, luas sekali… mereka tidak berani ambil rumput jauh-jauh ke tengah
padang, karena rumput yang ada di pinggiran saja sebenarnya sudah cukup banyak
untuk di makan oleh ternak-ternak mereka. Padahal jika mereka mau masuk lebih
dalam ke hutan rumput yang melebihi tinggi orang dewasa itu, mereka bakal
menemukan sebuah tempat nyaman yang tersembunyi, cocok untuk duduk dan
merenung. Tempat itu tak punya nama, dan ada tiga buah pohon yang tumbuh di
sana.
Tiga pohon itu sudah lama ada di sana, umurnya tua
sekali. Masing-masing dari jenis yang berbeda, salah satunya melebarkan akar ke
sekitar sehingga tidak ada rumput yang tumbuh di sekitar pohon-pohon itu.
Sayangnya, pohon itu terlalu jauh dari pinggir perkampungan, sehingga tidak ada
orang satupun yang memperhatikannya. Terlihat, memang… tapi tidak ada yang
memperhatikannya. Sama seperti tak ada yang memperhatikan awan putih di langit,
karena terlalu sibuk dengan urusan di tanah.
Ada dua orang yang suka ke sana, dulu… dulu sekali.
Mereka berdua sudah merantau ke kota sekarang, tapi dulu… mereka berdua sering
menghabiskan waktunya di tempat rahasia itu.
Dulu mereka masih kecil-kecil, umur sepuluh tahunan. Yang
satu badannya kurus kering, bergigi tonggos. Kakinya berhias koreng dan bekas
bisul-bisul yang sudah mengering. Yang satunya berbadan gendut, tinggi besar
berkulit lebih gelap dari Si Kurus. Setiap sore pulang sekolah, mereka suka
nongkrong di sana. Diam saja, kadang-kadang membawa komik, atau buku tulis dan
pensil untuk menggambar dan membuat puisi. Si Kurus, selalu berbicara dengan
logat Jawa yang kental, dan Si Gendut bicara dengan logat Indonesia biasa.
Mereka berdua pergi ke tempat itu awalnya hanya
kebetulan. Ketika bermain-main ke tengah padang rumput untuk berpetualang.
Menenteng sebilah potongan bambu sebagai pedang, dan berlaku seperti tokoh
kartun favorit mereka di televisi. Mereka berdua dulu adalah ksatria samurai
tak terkalahkan yang suka membela kebenaran dan membasmi monster-monster jahat
di desa itu. Dengan pedang yang mereka bawa, mereka masuk ke padang rumput
untuk mencari sarang monster yang mengancam ketentraman desa. Disisirnya oleh
mereka sulur-suilur kaki gurita setinggi 2 meter yang muncul dari dalam tanah.
Si Gendut terluka parah karena kaki gurita ini ternyata beracun, menyebabkan
luka baret pada tangan dan mukanya. Si Kurus dengan gagah memotong sulur-sulur
beracun itu. Mereka mencoba untuk kabur dari serangan gurita dalam tanah, namun
semakin dalam mereka masuk ke sarang musuh, semakin banyak kaki gurita yang
harus di lawan… hingga mereka menemukan tempat ini. Sebuah oasis di tengan
kekacauan.
Tiga pohon itu berdiri tegak, memberikan mereka perlindungan. Mereka naik ke satu pohon paling besar, yang cabang pertamanya tak terlalu jauh dari atas tanah. Mereka berdua duduk di situ, dan memandang sekeliling.
Tiga pohon itu berdiri tegak, memberikan mereka perlindungan. Mereka naik ke satu pohon paling besar, yang cabang pertamanya tak terlalu jauh dari atas tanah. Mereka berdua duduk di situ, dan memandang sekeliling.
“Lihat…” seru Si Gendut.
“Kita sudah di kepung musuh!!”
“Anjing!! Kita harus istirashat dulu! Nanti kita lawan mereka lagi!” Si Kurus terengah-engah dan terkulai tengkurap di batamg pohon.
“Edan… kamu nonton samurai yang kemarin tidak?” kata Si Gendut.
“Iya! Tokoh utamanya kewalahan ngadepin monster gurita… parah itu, dia mengeluarkan jurus terakhir tapi tetap tidak mempan!”
“Iya, musuhnya kebanyakan!”
“Kita sudah di kepung musuh!!”
“Anjing!! Kita harus istirashat dulu! Nanti kita lawan mereka lagi!” Si Kurus terengah-engah dan terkulai tengkurap di batamg pohon.
“Edan… kamu nonton samurai yang kemarin tidak?” kata Si Gendut.
“Iya! Tokoh utamanya kewalahan ngadepin monster gurita… parah itu, dia mengeluarkan jurus terakhir tapi tetap tidak mempan!”
“Iya, musuhnya kebanyakan!”
Lalu mereka ngobrol tentang film kartun yang mereka
tonton kemarin, sampai suara adzan maghrib terdengar dari kejauhan. Sayup-sayup
di bawa gelombang angin yang kadang kencang kadang sepoi. Mengantar mereka
berdua ke pulang ke rumah masing-masing.
Sebelum sampai di rumah, di jalan mereka bersepakat, kalau besok dan seterusnya, itu akan menjadi makas rahasia mereka.
Sebelum sampai di rumah, di jalan mereka bersepakat, kalau besok dan seterusnya, itu akan menjadi makas rahasia mereka.
“Jangan kasih tau anak-anak, nanti pada main ke sana.
Sudah, kita saja yang main di situ.” Kata Si Gendut dengan raut sengit.
“Kenapa? Bukannya malah enak ya, ramai…”
“Kita kan ketua anak-anak RT 2, kalau pada main ke sana, nanti si Niken kasih tau ke si Fadli… Fadli kan dari RT 4…”
“RT musuh.”
“Iya…”
Si Kurus manggut-manggut. Ia paham maksud Si Gendut. Si Niken memang bukan sembarang tukang gosip, tapi dia juga pacar anak RT 4. Mereka tidak rela kalau markas rahasia mereka nanti dikuasai anak-anak RT 4.
“Kenapa? Bukannya malah enak ya, ramai…”
“Kita kan ketua anak-anak RT 2, kalau pada main ke sana, nanti si Niken kasih tau ke si Fadli… Fadli kan dari RT 4…”
“RT musuh.”
“Iya…”
Si Kurus manggut-manggut. Ia paham maksud Si Gendut. Si Niken memang bukan sembarang tukang gosip, tapi dia juga pacar anak RT 4. Mereka tidak rela kalau markas rahasia mereka nanti dikuasai anak-anak RT 4.
Besoknya sepulang sekolah, mereka berdua langsung pergi
ke markas rahasia. Si Gendut membawa komik yang baru disewanya. Komiknya ada 4
buah, dan judulnya sama… sama seperti film kartun favoritnya. Si Kurus dan Si
Gendut nongkrong di pohon yang sama, membaca komik dengan khusyuk. Matahari
sore itu terik, tapi dedauan di atas mereka meneduhkan. Seiring dengan
bertambahnya halaman yang mereka baca, keringat di badan mereka mengering di
hembus angin. Angin yanmg bukan sembarang angin, tapi angin berbau garam yang
di bawa dari laut. Kristal-kristal garam terbentuk di bekas basah keringat
mereka, berbentuk butir-butir kecil berwarna putih. Mereka baca komik dengan teliti,
adegan demi adegan, huruf per huruf… Alam mereka terbawa ke dunia lain penuh
fantasi, petualangan mendebarkan. Jiwa-jiwa mereka menyala seperti bara pada
arang yang di kipas tukang sate. Menghangatkan dinginnya tiga pohon di tengah
padang rumput tak terjamah itu.
Dua tahun lamanya mereka berdua, Si Gendut dan Si Kurus,
menjadikan pohon itu sebagai markas rahasia. Sampai akhirnya mereka lulus SD,
dan masuk SMP. Perlahan dan bertahap, mereka mulai larut pada kesibukan di
sekolah. Apalagi mereka sudah beda sekolah sekarang. Si Kurus masuk pagi,
pulang siang, dan Si Gendut masuk siang pulang sore. Mereka jadi jarang
bertemu. Si Kurus lalu pindah ke kota lain. Si Gendut menyusul tak lama sudah
itu.
Sudah lima belas tahun sejak hari-hari itu, padang rumput
di sana tetap pada tingginya semula. Rumput yang tua mati, dan yang muda tumbuh
sampai ketinggian yang sama, lalu mati, dan digantikan dengan yang muda lagi.
Tiga pohon itu masih di dalam padang rumput itu. Masih di tiup oleh angin
berbau garam yang di bawa dari lautan. Di sore hari, gemerisik dedaunan di
pohon itu bersenandung sendu. Menyambut suara adzan maghrib sayup-sayup di
kejauhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar