Senin, 19 Desember 2016

Tiga Pohon di Padang Rumput

Orang-orang desa suka mencari rumput gajah untuk makan ternak di padang rumput sebelah sana, di pinggir perkampungan. Padang rumput yang luas, luas sekali… mereka tidak berani ambil rumput jauh-jauh ke tengah padang, karena rumput yang ada di pinggiran saja sebenarnya sudah cukup banyak untuk di makan oleh ternak-ternak mereka. Padahal jika mereka mau masuk lebih dalam ke hutan rumput yang melebihi tinggi orang dewasa itu, mereka bakal menemukan sebuah tempat nyaman yang tersembunyi, cocok untuk duduk dan merenung. Tempat itu tak punya nama, dan ada tiga buah pohon yang tumbuh di sana.
Tiga pohon itu sudah lama ada di sana, umurnya tua sekali. Masing-masing dari jenis yang berbeda, salah satunya melebarkan akar ke sekitar sehingga tidak ada rumput yang tumbuh di sekitar pohon-pohon itu. Sayangnya, pohon itu terlalu jauh dari pinggir perkampungan, sehingga tidak ada orang satupun yang memperhatikannya. Terlihat, memang… tapi tidak ada yang memperhatikannya. Sama seperti tak ada yang memperhatikan awan putih di langit, karena terlalu sibuk dengan urusan di tanah.
Ada dua orang yang suka ke sana, dulu… dulu sekali. Mereka berdua sudah merantau ke kota sekarang, tapi dulu… mereka berdua sering menghabiskan waktunya di tempat rahasia itu.
Dulu mereka masih kecil-kecil, umur sepuluh tahunan. Yang satu badannya kurus kering, bergigi tonggos. Kakinya berhias koreng dan bekas bisul-bisul yang sudah mengering. Yang satunya berbadan gendut, tinggi besar berkulit lebih gelap dari Si Kurus. Setiap sore pulang sekolah, mereka suka nongkrong di sana. Diam saja, kadang-kadang membawa komik, atau buku tulis dan pensil untuk menggambar dan membuat puisi. Si Kurus, selalu berbicara dengan logat Jawa yang kental, dan Si Gendut bicara dengan logat Indonesia biasa.
Mereka berdua pergi ke tempat itu awalnya hanya kebetulan. Ketika bermain-main ke tengah padang rumput untuk berpetualang. Menenteng sebilah potongan bambu sebagai pedang, dan berlaku seperti tokoh kartun favorit mereka di televisi. Mereka berdua dulu adalah ksatria samurai tak terkalahkan yang suka membela kebenaran dan membasmi monster-monster jahat di desa itu. Dengan pedang yang mereka bawa, mereka masuk ke padang rumput untuk mencari sarang monster yang mengancam ketentraman desa. Disisirnya oleh mereka sulur-suilur kaki gurita setinggi 2 meter yang muncul dari dalam tanah. Si Gendut terluka parah karena kaki gurita ini ternyata beracun, menyebabkan luka baret pada tangan dan mukanya. Si Kurus dengan gagah memotong sulur-sulur beracun itu. Mereka mencoba untuk kabur dari serangan gurita dalam tanah, namun semakin dalam mereka masuk ke sarang musuh, semakin banyak kaki gurita yang harus di lawan… hingga mereka menemukan tempat ini. Sebuah oasis di tengan kekacauan.
Tiga pohon itu berdiri tegak, memberikan mereka perlindungan. Mereka naik ke satu pohon paling besar, yang cabang pertamanya tak terlalu jauh dari atas tanah. Mereka berdua duduk di situ, dan memandang sekeliling.
“Lihat…” seru Si Gendut.
“Kita sudah di kepung musuh!!”
“Anjing!! Kita harus istirashat dulu! Nanti kita lawan mereka lagi!” Si Kurus terengah-engah dan terkulai tengkurap di batamg pohon.
“Edan… kamu nonton samurai yang kemarin tidak?” kata Si Gendut.
“Iya! Tokoh utamanya kewalahan ngadepin monster gurita… parah itu, dia mengeluarkan jurus terakhir tapi tetap tidak mempan!”
“Iya, musuhnya kebanyakan!”
Lalu mereka ngobrol tentang film kartun yang mereka tonton kemarin, sampai suara adzan maghrib terdengar dari kejauhan. Sayup-sayup di bawa gelombang angin yang kadang kencang kadang sepoi. Mengantar mereka berdua ke pulang ke rumah masing-masing.
Sebelum sampai di rumah, di jalan mereka bersepakat, kalau besok dan seterusnya, itu akan menjadi makas rahasia mereka.
“Jangan kasih tau anak-anak, nanti pada main ke sana. Sudah, kita saja yang main di situ.” Kata Si Gendut dengan raut sengit.
“Kenapa? Bukannya malah enak ya, ramai…”
“Kita kan ketua anak-anak RT 2, kalau pada main ke sana, nanti si Niken kasih tau ke si Fadli… Fadli kan dari RT 4…”
“RT musuh.”
“Iya…”
Si Kurus manggut-manggut. Ia paham maksud Si Gendut. Si Niken memang bukan sembarang tukang gosip, tapi dia juga pacar anak RT 4. Mereka tidak rela kalau markas rahasia mereka nanti dikuasai anak-anak RT 4.
Besoknya sepulang sekolah, mereka berdua langsung pergi ke markas rahasia. Si Gendut membawa komik yang baru disewanya. Komiknya ada 4 buah, dan judulnya sama… sama seperti film kartun favoritnya. Si Kurus dan Si Gendut nongkrong di pohon yang sama, membaca komik dengan khusyuk. Matahari sore itu terik, tapi dedauan di atas mereka meneduhkan. Seiring dengan bertambahnya halaman yang mereka baca, keringat di badan mereka mengering di hembus angin. Angin yanmg bukan sembarang angin, tapi angin berbau garam yang di bawa dari laut. Kristal-kristal garam terbentuk di bekas basah keringat mereka, berbentuk butir-butir kecil berwarna putih. Mereka baca komik dengan teliti, adegan demi adegan, huruf per huruf… Alam mereka terbawa ke dunia lain penuh fantasi, petualangan mendebarkan. Jiwa-jiwa mereka menyala seperti bara pada arang yang di kipas tukang sate. Menghangatkan dinginnya tiga pohon di tengah padang rumput tak terjamah itu.
Dua tahun lamanya mereka berdua, Si Gendut dan Si Kurus, menjadikan pohon itu sebagai markas rahasia. Sampai akhirnya mereka lulus SD, dan masuk SMP. Perlahan dan bertahap, mereka mulai larut pada kesibukan di sekolah. Apalagi mereka sudah beda sekolah sekarang. Si Kurus masuk pagi, pulang siang, dan Si Gendut masuk siang pulang sore. Mereka jadi jarang bertemu. Si Kurus lalu pindah ke kota lain. Si Gendut menyusul tak lama sudah itu.
Sudah lima belas tahun sejak hari-hari itu, padang rumput di sana tetap pada tingginya semula. Rumput yang tua mati, dan yang muda tumbuh sampai ketinggian yang sama, lalu mati, dan digantikan dengan yang muda lagi. Tiga pohon itu masih di dalam padang rumput itu. Masih di tiup oleh angin berbau garam yang di bawa dari lautan. Di sore hari, gemerisik dedaunan di pohon itu bersenandung sendu. Menyambut suara adzan maghrib sayup-sayup di kejauhan.


Pengorbanan Putri Kemarau

Putri Jelitani adalah seorang putri raja di sebuah kerajaan di daerah Sumatra Selatan. Suatu ketika, negeri sang Putri dilanda kemarau yang amat panjang. Keadaan yang sulit itu baru akan pulih jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan mencebur ke laut. Oleh karena tak seorang pun yang mau berkorban, maka dengan ikhlas sang Putri rela melakukannya demi keselamatan rakyatnya dari bahaya kelaparan. Bagaimana nasib Putri Kemarau selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Pengorbanan Putri Kemarau berikut ini!
* * *
Dahulu, di Sumatra Selatan ada seorang putri raja bernama Putri Jelitani. Namun, ia akrab dipanggil Putri Kemarau karena dilahirkan pada musim kemarau. Ia merupakan putri semata wayang sang Raja. Ibunda sang Putri baru saja wafat. Sebagai putri tunggal, ia pun amat disayangi oleh ayahnya. Sementara itu, ayahnya adalah seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Negeri dan rakyatnya pun hidup makmur dan tenteram.
Suatu ketika, negeri itu dilanda kemarau yang sangat panjang. Sungai-sungai kekeringan dan air danau pun menjadi surut. Padang rumput sudah hangus terbakar terik matahari. Ternak-ternak warga banyak yang mati. Tanah menjadi kering dan pecah-pecah sehingga hasil panen pun gagal. Warga banyak yang terserang penyakit dan dilanda kelaparan. Melihat keadaan tersebut, sang Raja yang arif dan bijaksana itu pun segera bertindak. Ia segera mencari peramal untuk mencari jalan keluar dari kesulitan tersebut. Sudah banyak peramal yang ditemui, namun belum seorang pun yang mampu memberinya jalan keluar.
Suatu hari, sang Raja mendengar kabar bahwa di suatu desa yang terpencil ada seorang peramal yang terkenal sakti. Ia pun mendatangi peramal itu.
“Wahai, tukang ramal. Negeriku sedang dalam kesulitan. Tolong katakan bagaimana caranya mengatasi masalah ini,” pinta sang Raja.
 “Baginda, petunjuk mengenai jalan keluar dari kesulitan akan melalui mimpi putri Baginda,” jawab peramal itu.
“Baiklah, kalau begitu. Hal ini akan kutanyakan langsung kepada putriku,” kata sang Raja yang segera kembali ke istana.
Setiba di istana, sang Raja mendapati putrinya sedang duduk termenung seorang diri di taman.
“Ayahanda baru saja menemui seorang juru ramal yang sakti,” kata sang Raja kepada putrinya.
Mendengar itu, Putri Kemarau sontak menatap wajah ayahandanya.
“Apa kata juru ramal itu Ayahanda?” tanya Putri Kemarau.
“Menurut juru ramal itu bahwa petunjuk mengenai jalan keluar dari kesulitan ini akan datang melalui mimpi Andanda. Apakah Ananda sudah bermimpi tentang hal itu?” sang Raja balik bertanya.
“Belum, Ayahanda,” jawab Putri Kemarau, “Tapi, alangkah baiknya jika semua masalah ini kita serahkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” lanjut sang Putri.
Alangkah terkejutnya sang Raja mendengar perkataan putrinya. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putri kesayangannya itu memiliki pemikiran yang cerdas. Ia pun menyadari kekeliruannya selama ini.
“Benar juga katamu, Putriku. Perkataanmu itu membuat Ayanda sadar. Maafkan Ayah, Putriku!” ucap raja yang bijaksana itu.
Putri Kemarau kemudian menyarankan kepada Ayandanya agar seluruh rakyat negeri itu melakukan upacara berdoa bersama kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Maka, berkat doa bersama tersebut, Putri Kemarau pun mendapat petunjuk melalui mimpinya. Dalam mimpi itu, sang Putri didatangi oleh ibundanya.
“Wahai, Putriku. Kesulitan yang dialami negeri akan berubah jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan menceburkan diri ke laut,” ujar ibu Putri Kemarau.
Begitu terjaga, sang Putri pun menceritakan perihal mimpi itu kepada ayahandanya. Ternyata, sang Raja pun telah bermimpi mendapat bisikan gaib yang menyampaikan pesan yang sama. Maka, pada esok harinya, sang Raja segera mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk menyampaikan pesan itu.
“Wahai, seluruh rakyatku. Ketahuilah bahwa negeri ini akan kembali makmur jika ada seorang gadis yang dengan ikhlas mengorbankan dirinya mencebur ke dalam laut. Siapakah di antara kalian yang ingin melakukannya demi kebaikan kita semua?” tanya sang Raja di depan rakyatnya.
Tapi, tak seorang pun gadis yang berani mengajukan diri. Di tengah keheningan, tiba-tiba Putri Kemarau yang duduk di samping ayahandanya bangkit dari tempat duduknya lalu berkata.
“Ananda rela mengorbankan jiwa hamba dengan ikhlas demi kemakmuran rakyat negeri ini,” kata Putri Kemarau dengan suara lantang.
Seketika seluruh yang hadir tersentak kaget, terutama sang Raja. Ia tidak ingin anak semata wayangnya itu yang menjadi korbannya.
“Jangan, Putriku. Engkaulah satu-satunya milik Ayahanda. Engkaulah yang akan meneruskan tahta kerajaan ini. Jangan lakukan itu, Putriku!” cegah sang Raja.
Namun, Putri Kemarau tetap pada pendiriannya. Keinginan sang Putri sudah tidak dapat dibendung lagi.
“Lebih baik Ananda saja yang menjadi korban daripada seluruh rakyat negeri ini,” tegas sang Putri, “Barangkali ini sudah menjadi takdir Ananda.”
Sang Raja pun tak kuasa menahan keinginan putrinya. Maka, pada malam harinya, sang Putri dengan diantar oleh ayahanda dan seluruh rakyat pergi ke ujung tebing laut. Sebelum terjun ke laut, ia berpesan kepada ayahanda dan rakyatnya.
“Ikhlaskan kepergian Ananda, maafkan semua kesalahan Ananda,” pinta sang Putri.
Sang Raja tak kuasa menahan rasa haru. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Namun, apa hendak dibuat, tak seorang pun yang sanggup menahan keinginan putrinya. Putri Kemarau pun terjun ke laut. Bersamaan dengan terceburnya tubuh sang Putri ke dalam air laut, langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan hujan pun turun dengan lebatnya. Dalam waktu singkat, seluruh wilayah negeri itu pun digenangi air. Tentu saja hal itu menjadi pertanda bahwa tumbuh-tumbuhan akan kembali menghijau dan tanah menjadi subur.
Seluruh rakyat negeri itu dirundung rasa suka cita, terutama sang Raja. Di satu sisi, negerinya akan kembali makmur, namu di sisi lain ia telah kehilangan putri yang amat disayanginya. Demikian pula yang dirasakan oleh seluruh rakyatnya.
Hujan semakin deras. Sang Raja dan rakyatnya pun segera meninggalkan tebing laut itu. Setiba di istana, raja itu langsung tertidur karena kelelahan. Betapa terkejutnya ia karena tiba-tiba mendengar suara bisikan yang menyuruhnya kembali ke tebing laut.
“Segeralah kembali ke tebing laut. Temuilah putrimu di sana!” demikian pesan suara itu.
Begitu terbangun, sang Raja bersama rakyatnya pun bergegas kembali ke tebing itu. Sesampainya di sana, mereka mendapati Putri Kemarau berdiri di atas sebuah karang di tengah laut dengan membawa penerangan dan harapan baru. Rupanya, sang Putri diselamatkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa karena keikhlasannya berkorban demi kepentingan orang banyak. Namun ajaibnya, semula tidak ada batu karang di tengah laut itu.
“Terima kasih, Tuhan! Engkau telah menyelamatkan putriku,” ucap sang Raja.
Usai berucap syukur, raja itu segera memerintahkan pengawalnya untuk menjemput sang Putri dan membawanya kembali ke istana. Beberapa tahun kemudian, sang Raja akhirnya menyerahkan kekuasaannya kepada putrinya. Sejak itulah, Putri Kemarau menjadi ratu di negeri tersebut. Ia memerintah dengan arif dan bijaksana. Rakyatnya pun hidup makmur dan sejahtera.
* * *


Gajah Yang Baik Hati

Cerita kali ini merupakan lanjutan dari fabel dongeng sebelum tidur gajah yang baik hati, tentu adik-adik sudah membaca dongeng tersebut kan? Cerita anak yang mengisahkan kebaikan hati dari si gajah yang bertubuh besar. Lalu bagaimana kelanjutan cerita si gajah baik hati itu? Silahkan baca kisah selanjutnya dongeng anak paud gajah yang baik hati.

‘’Tolong.’’ Toloooonggggg..!’’Tindakkan Kancil masuk kedalam itu merupakan tindakan yang sangat ceroboh. Ia tidak berpikir bagaimana caranya ia naik ke atas bila sudah berada di dalam kolam tersebut. Beberapa kali Kancil mencoba untuk memanjat tetapi ia tidak bisa sampai ke atas.
Si Kancil tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berteriak meminta tolong. Teriakan si Kancil ternyata terdengar oleh sang Gajah yang kebetulan sedang berjalan melewati tempat itu. ‘’Hai, siapa yang ada di kolam itu?’’
“Aku… tolong aku..! jawab si Kancil.
“Siapa kau?’’ Tanya Gajah.
‘’Aku.. si Kancil sahabatmu.’’
‘’Kenapa kamu bisa di dalam kolam ini? Dan berteriak meminta tolong.’’
Kancil terdiam sesaat mencari akal agar Gajah mau menolongnya.
‘’Tolong aku mengangkat ikan ini.’’
“Yang benar kau mendapat ikan?’’
‘’Bener..benar ! aku mendapatkan ikan yang sangat besar.’’
‘’Tapi bagaimana caranya aku turun kebawah.’’
‘’Sebaiknya kamu langsung turun saja kebawah. Sebab jika tidak cepat-cepat ikan ini bisa lepas.!’’
Gajah berpikir sejenak. Bisa saja ia turun ke bawah dengan mudah tetapi bagaimana jika naiknya nanti.
‘’Cil. Mana ikan yang kau dapatkan ?’’
‘’Ada di sepasang kakiku.’’ Kata Kancil.
‘’Kalau aku menolongmu. Lalu bagaimana caranya aku naik dari kolam ini.?’’
Kini Kancil terdiam. Ia tidak menyangka gajah dapat berpikir sejauh itu. Tidak seperti dirinya, karena kehausan langsung terjun kedalam kolam. Tanpa berpikir akibatbya.
‘’Kau mau memanfaatkanku ya Cil?’’ kau akan menipuku untuk kepentingan dan keselamatanmu sendiri?’’ Tanya Gajah.
Kancil hanya terdiam.
‘’Sekali-kali kamu harus diberi pelajaran.’’ kata Gajah sambil meninggalkan tempat itu.
‘’Waduh.. Pak Gajah. Aku mohon tolonggggg….!’’
Gajah tidak mendengarkan teriakan Kancil. Kancil mulai putus asa. Semakin lama berada di tempat itu Kancil mulai merasa kedinginan.
‘’Toolongg.. tolongggg.’’
Hingga menjelang sore tidak ada seekor binatang yang mendengar teriakannya.
‘’Aduh gawat! Aku benar-benar akan mati kaku di tempat ini.’’ Kancil mulai membayangkan akhir hidupnya ditempat ini.
Lalu Kancil berteriak dengan keras.’’ Wahai langit dan bumi! Dan seluruh binatang yang berasa di hutan. Aku bersumpah tidak akan menipu untuk kepentinganku dan keselamatanku sendiri, kecuali……!
Ketika Kancil mengucapkan kata kecuali, Kancil sengaja mengecilkan suaranya sehingga hampir tidak terdengar lagi. Tak di sangka ternyata Gajah tiba-tiba muncul di tepi kolam. Ternyata Gajah tidak benar-benar meninggalkan Kancil sendirian dan sengaja menyembunyikan dirinya. Ia penasaran mendengar ucapan kancil yang terakhir.
“Kecuali apa?’’ tanya Gajah penasaran.
Kancil terkejut mendengar suara Gajah.
‘’Pak Gajah? Kau kembali lagi?’’
‘’Jawab pertanyaanku Cil. Kecuali apa?’’
‘’Hmm. Kecuali terpaksa untuk menyelamatkan diri. Karena aku hewan kecil yang serimg terancam oleh Harimau, Singa, Srigala, dan binatang lainnya yang jahat.’’
‘’Oh begitu..?’’ sahut Pak Gajah. ‘’Sekarang apakah kamu sudah sadar? Dan akan berjanji tidak akan menipu, jahil, iseng dan perbuatan yang merugikan binatang lain?’’
‘’Benar Pak Gajah.’’
‘’Betul?’’
Betul Pak Gajah, saya benar-benar berjanji.’’
‘’Baiklah sekarang aku akan menolonhmu Cil.’’ Kata Gajah.
Gajah menjulurkan belalainya yang sangat panjang untuk menangkap Kancil dan mengangkatnya ke atas. Begitu sampai di atas Kancil berkata.
‘’Terima kasih Pak Gajah! Saya tidak akan pernah melupakan kebaikanmu ini.’’
Sejak itu Kancil menjadi binatang yang sangat baik. Ia tidak lagi berbuat iseng seperti yang pernah ia lakukan pada beruang dan binatang-binatang yang lainya.


Sabtu, 17 Desember 2016

Malin Kundang


Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.

Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.

Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.

Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.

Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.