Putri Jelitani adalah seorang putri raja di
sebuah kerajaan di daerah Sumatra Selatan. Suatu ketika, negeri
sang Putri dilanda kemarau yang amat panjang. Keadaan yang sulit itu
baru akan pulih jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan
mencebur ke laut. Oleh karena tak seorang pun yang mau berkorban, maka
dengan ikhlas sang Putri rela melakukannya demi keselamatan rakyatnya
dari bahaya kelaparan. Bagaimana nasib Putri Kemarau
selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Pengorbanan Putri Kemarau berikut
ini!
* * *
Dahulu, di Sumatra Selatan ada seorang putri raja bernama
Putri Jelitani. Namun, ia akrab dipanggil Putri Kemarau karena dilahirkan pada
musim kemarau. Ia merupakan putri semata wayang sang Raja. Ibunda sang Putri
baru saja wafat. Sebagai putri tunggal, ia pun amat disayangi oleh ayahnya.
Sementara itu, ayahnya adalah seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Negeri
dan rakyatnya pun hidup makmur dan tenteram.
Suatu ketika, negeri itu dilanda kemarau yang sangat
panjang. Sungai-sungai kekeringan dan air danau pun menjadi surut. Padang
rumput sudah hangus terbakar terik matahari. Ternak-ternak warga banyak yang
mati. Tanah menjadi kering dan pecah-pecah sehingga hasil panen pun gagal.
Warga banyak yang terserang penyakit dan dilanda kelaparan. Melihat keadaan
tersebut, sang Raja yang arif dan bijaksana itu pun segera bertindak. Ia segera
mencari peramal untuk mencari jalan keluar dari kesulitan tersebut. Sudah
banyak peramal yang ditemui, namun belum seorang pun yang mampu memberinya
jalan keluar.
Suatu hari, sang Raja mendengar kabar bahwa di suatu desa
yang terpencil ada seorang peramal yang terkenal sakti. Ia pun mendatangi
peramal itu.
“Wahai, tukang ramal. Negeriku sedang dalam kesulitan.
Tolong katakan bagaimana caranya mengatasi masalah ini,” pinta sang Raja.
“Baginda, petunjuk mengenai jalan keluar dari
kesulitan akan melalui mimpi putri Baginda,” jawab peramal itu.
“Baiklah, kalau begitu. Hal ini akan kutanyakan langsung
kepada putriku,” kata sang Raja yang segera kembali ke istana.
Setiba di istana, sang Raja mendapati putrinya sedang duduk
termenung seorang diri di taman.
“Ayahanda baru saja menemui seorang juru ramal yang sakti,”
kata sang Raja kepada putrinya.
Mendengar itu, Putri Kemarau sontak menatap wajah
ayahandanya.
“Apa kata juru ramal itu Ayahanda?” tanya Putri Kemarau.
“Menurut juru ramal itu bahwa petunjuk mengenai jalan keluar
dari kesulitan ini akan datang melalui mimpi Andanda. Apakah Ananda sudah
bermimpi tentang hal itu?” sang Raja balik bertanya.
“Belum, Ayahanda,” jawab Putri Kemarau, “Tapi, alangkah
baiknya jika semua masalah ini kita serahkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa,”
lanjut sang Putri.
Alangkah terkejutnya sang Raja mendengar perkataan putrinya.
Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putri kesayangannya itu memiliki
pemikiran yang cerdas. Ia pun menyadari kekeliruannya selama ini.
“Benar juga katamu, Putriku. Perkataanmu itu membuat Ayanda
sadar. Maafkan Ayah, Putriku!” ucap raja yang bijaksana itu.
Putri Kemarau kemudian menyarankan kepada Ayandanya agar
seluruh rakyat negeri itu melakukan upacara berdoa bersama kepada Tuhan Yang
Mahakuasa. Maka, berkat doa bersama tersebut, Putri Kemarau pun mendapat
petunjuk melalui mimpinya. Dalam mimpi itu, sang Putri didatangi oleh
ibundanya.
“Wahai, Putriku. Kesulitan yang dialami negeri akan berubah
jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan menceburkan diri ke laut,”
ujar ibu Putri Kemarau.
Begitu terjaga, sang Putri pun menceritakan perihal mimpi
itu kepada ayahandanya. Ternyata, sang Raja pun telah bermimpi mendapat bisikan
gaib yang menyampaikan pesan yang sama. Maka, pada esok harinya, sang Raja
segera mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk menyampaikan pesan itu.
“Wahai, seluruh rakyatku. Ketahuilah bahwa negeri ini akan
kembali makmur jika ada seorang gadis yang dengan ikhlas mengorbankan dirinya
mencebur ke dalam laut. Siapakah di antara kalian yang ingin melakukannya demi
kebaikan kita semua?” tanya sang Raja di depan rakyatnya.
Tapi, tak seorang pun gadis yang berani mengajukan diri. Di
tengah keheningan, tiba-tiba Putri Kemarau yang duduk di samping ayahandanya
bangkit dari tempat duduknya lalu berkata.
“Ananda rela mengorbankan jiwa hamba dengan ikhlas demi
kemakmuran rakyat negeri ini,” kata Putri Kemarau dengan suara lantang.
Seketika seluruh yang hadir tersentak kaget, terutama sang
Raja. Ia tidak ingin anak semata wayangnya itu yang menjadi korbannya.
“Jangan, Putriku. Engkaulah satu-satunya milik Ayahanda.
Engkaulah yang akan meneruskan tahta kerajaan ini. Jangan lakukan itu,
Putriku!” cegah sang Raja.
Namun, Putri Kemarau tetap pada pendiriannya. Keinginan sang
Putri sudah tidak dapat dibendung lagi.
“Lebih baik Ananda saja yang menjadi korban daripada seluruh
rakyat negeri ini,” tegas sang Putri, “Barangkali ini sudah menjadi takdir
Ananda.”
Sang Raja pun tak kuasa menahan keinginan putrinya. Maka,
pada malam harinya, sang Putri dengan diantar oleh ayahanda dan seluruh rakyat
pergi ke ujung tebing laut. Sebelum terjun ke laut, ia berpesan kepada ayahanda
dan rakyatnya.
“Ikhlaskan kepergian Ananda, maafkan semua kesalahan
Ananda,” pinta sang Putri.
Sang Raja tak kuasa menahan rasa haru. Air matanya menetes
membasahi kedua pipinya. Namun, apa hendak dibuat, tak seorang pun yang sanggup
menahan keinginan putrinya. Putri Kemarau pun terjun ke laut. Bersamaan dengan
terceburnya tubuh sang Putri ke dalam air laut, langit menjadi mendung. Petir
menyambar-nyambar dan hujan pun turun dengan lebatnya. Dalam waktu singkat,
seluruh wilayah negeri itu pun digenangi air. Tentu saja hal itu menjadi
pertanda bahwa tumbuh-tumbuhan akan kembali menghijau dan tanah menjadi subur.
Seluruh rakyat negeri itu dirundung rasa suka cita, terutama
sang Raja. Di satu sisi, negerinya akan kembali makmur, namu di sisi lain ia
telah kehilangan putri yang amat disayanginya. Demikian pula yang dirasakan
oleh seluruh rakyatnya.
Hujan semakin deras. Sang Raja dan rakyatnya pun segera
meninggalkan tebing laut itu. Setiba di istana, raja itu langsung tertidur
karena kelelahan. Betapa terkejutnya ia karena tiba-tiba mendengar suara bisikan
yang menyuruhnya kembali ke tebing laut.
“Segeralah kembali ke tebing laut. Temuilah putrimu di
sana!” demikian pesan suara itu.
Begitu terbangun, sang Raja bersama rakyatnya pun bergegas
kembali ke tebing itu. Sesampainya di sana, mereka mendapati Putri Kemarau
berdiri di atas sebuah karang di tengah laut dengan membawa penerangan dan
harapan baru. Rupanya, sang Putri diselamatkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa karena
keikhlasannya berkorban demi kepentingan orang banyak. Namun ajaibnya, semula
tidak ada batu karang di tengah laut itu.
“Terima kasih, Tuhan! Engkau telah menyelamatkan putriku,”
ucap sang Raja.
Usai berucap syukur, raja itu segera memerintahkan
pengawalnya untuk menjemput sang Putri dan membawanya kembali ke istana.
Beberapa tahun kemudian, sang Raja akhirnya menyerahkan kekuasaannya kepada
putrinya. Sejak itulah, Putri Kemarau menjadi ratu di negeri tersebut. Ia
memerintah dengan arif dan bijaksana. Rakyatnya pun hidup makmur dan sejahtera.
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar